Mayoritas model AI terbesar di dunia — dari ChatGPT hingga Gemini — dilatih dengan data yang didominasi bahasa Inggris. Hasilnya? Miliaran pengguna di Asia, Afrika, dan Amerika Latin kerap mendapat respons yang kaku, tidak akurat secara budaya, atau bahkan sama sekali tidak relevan ketika menggunakan AI dalam bahasa ibu mereka.
Laporan CNN Business yang dirilis 20 April 2026 lalu menyoroti fenomena ini dengan tajam. Para inovator di India kini secara aktif membangun model AI yang inklusif secara linguistik, menantang pendekatan "satu-untuk-semua" yang selama ini dianut raksasa teknologi Silicon Valley.
India adalah laboratorium yang sempurna untuk eksperimen ini. Negara ini punya lebih dari 22 bahasa resmi dan ratusan dialek lokal. Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, potensi pasar AI berbahasa lokal di India saja sudah mengalahkan gabungan populasi Uni Eropa.
Yang menarik, celah linguistik ini bukan sekadar soal kenyamanan. Studi menunjukkan bahwa model AI yang dilatih dominan bahasa Inggris cenderung menghasilkan output yang bias budaya Barat — mulai dari rekomendasi medis yang tidak mempertimbangkan konteks lokal, hingga asumsi normatif yang tidak berlaku di masyarakat Asia atau Afrika.
Salah satu contoh konkret: sebuah model AI yang awalnya dikembangkan untuk membedakan jenis-jenis roti manis di Prancis kini diadaptasi untuk mendeteksi kanker di rumah sakit-rumah sakit Asia Tenggara. Keberhasilannya justru datang dari pemahaman mendalam terhadap data lokal, bukan dari skala model yang besar.
Tren serupa juga terlihat di berbagai sektor lain. Di Indonesia, layanan streaming lokal dan kios digital seperti Bukalapak berhasil bersaing dengan raksasa global berkat pemahaman mendalam terhadap preferensi pengguna lokal. Di Singapura, super app Grab bahkan meluncurkan GrabMaps — teknologi pemetaan proprietary yang dirancang khusus untuk lingkungan perkotaan Asia Tenggara yang kompleks.
Bidang kesehatan mental juga jadi ceruk yang menarik. Beberapa startup Asia kini mengembangkan aplikasi AI yang dirancang khusus untuk mengatasi stigma budaya seputar kesehatan mental di masyarakat Asia — sesuatu yang mustahil dilakukan oleh model yang dilatih hanya dengan konteks budaya Barat.
Bagi investor, pergeseran ini mulai terlihat jelas. Venture capital Silicon Valley kini semakin melirik Asia Tenggara dan India sebagai sumber solusi AI yang bisa di-scale secara global. Bukan lagi soal "menduplikasi" produk Barat untuk pasar berkembang, melainkan membangun dari nol dengan konteks lokal sebagai fondasi.
Bagi ekosistem teknologi Indonesia, peluang ini sangat relevan. Dengan lebih dari 700 bahasa daerah dan populasi digital yang terus tumbuh, Indonesia punya modal besar untuk mengembangkan AI yang benar-benar memahami nuansa lokal. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI bisa berbahasa Indonesia dengan baik — tapi apakah kita siap membangunnya sendiri sebelum orang lain melakukannya.
Sudut Pandang Kami:
Pergeseran ini bukan sekadar soal bahasa — ini soal siapa yang mengendalikan narasi teknologi global. Jika kita di Indonesia masih bergantung pada AI yang dilatih dominan dengan konteks Barat, kita tidak hanya kehilangan keakuratan, tapi juga kedaulatan digital. Negara-negara yang membangun AI dari konteks lokalnya sendiri — seperti India — akan punya keunggulan kompetitif yang tidak bisa dibeli. Indonesia harus mulai berinvestasi di AI yang memahami bahasa, budaya, dan kebutuhan spesifik Nusantara sebelum kesempatannya tertutup.
