Siapa bilang AI akan membunuh aplikasi mobile? Data terbaru dari Appfigures justru menunjukkan kebalikannya. Pada kuartal pertama 2026, peluncuran aplikasi global melonjak 60% secara year-over-year di App Store dan Google Play — sebuah angka yang menantang semua prediksi bahwa chatbot AI akan membuat aplikasi jadi usang.
Angka di iOS bahkan lebih menggigit. App Store mencatat kenaikan 80% dalam peluncuran aplikasi baru dibanding Q1 2025. Dan tren ini belum mereda — hingga pertengahan April, total rilis sudah naik 104% di kedua platform. Greg "Joz" Joswiak, SVP Marketing Apple, sampai bergurau bahwa rumor kematian App Store di era AI "mungkin terlalu dilebih-lebihkan."
Apa yang sebenarnya terjadi? Para analis menunjuk pada fenomena "vibe coding" — istilah yang merujuk pada kemampuan membuat aplikasi tanpa keahlian teknis mendalam, berkat alat-alat seperti Claude Code, Cursor, dan Replit. AI telah menurunkan barrier masuk secara drastis. Orang yang dulu hanya bisa jadi pengguna aplikasi, kini bisa menjadi pembuatnya.
Pergeseran kategori aplikasi juga menarik untuk dicermati. Meski game masih bertengger di posisi teratas, kategori Utilitas kini naik ke posisi kedua — melompati posisi sebelumnya. Gaya Hidup naik dari peringkat lima ke tiga, sementara Produktivitas masuk lima besar untuk pertama kalinya. Ini sinyal bahwa aplikasi-aplikasi baru bukan sekadar hiburan, melainkan tools yang benar-benar memecahkan masalah sehari-hari.
Namun ada sisi gelap dari ledakan ini. Volume pengajuan aplikasi yang membludak membuat proses review Apple kewalahan. Kasus paling mencolok terjadi awal tahun ini: sebuah kloning aplikasi kripto Ledger berhasil lolos dari review dan menguras $9,5 juta dari dompet pengguna. Apple memang melaporkan bahwa mereka memblokir transaksi senilai $9 miliar pada 2024 — tapi jumlah aplikasi baru yang masuk membuat deteksi semakin sulit.
Pundit teknologi John Gruber bahkan menyerukan pembentukan tim khusus — semacam "bunco squad" — untuk memantau aplikasi-aplikasi trending dan berpendapatan tinggi yang mungkin menggunakan taktik scam canggih yang lolos dari review otomatis. Ini jadi tantangan serius: bagaimana menjaga kualitas ekosistem di tengah lonjakan kuantitas yang didorong AI.
Di sisi lain, persaingan hardware tetap berjalan. Nothing (dipimpin Carl Pei) dan kolaborasi OpenAI dengan desainer legendaris Jony Ive terus mengembangkan perangkat AI-first yang dirancang untuk melampaui model smartphone tradisional. Tapi untuk saat ini, data menunjukkan bahwa aplikasi mobile justru sedang mengalami renaissance — dan AI adalah bahan bakarnya, bukan bensin yang membakarnya.
Bagi developer dan investor, sektor Produktivitas dan Utilitas saat ini menjadi area paling aktif untuk pertumbuhan berbasis AI. Peluangnya jelas: siapa yang bisa memanfaatkan alat AI untuk menciptakan solusi nyata bagi pengguna, dialah yang akan mendapat keuntungan terbesar dari gelombang ini.
Sudut Pandang Kami:
Ledakan aplikasi yang didorong AI coding tools membuktikan bahwa AI bukan pembunuh apps — AI adalah bahan bakarnya. Tren ini sangat positif untuk ekosistem developer Indonesia: semakin rendah barrier untuk membuat aplikasi, semakin banyak innovator bisa ikut serta. Tapi kualitas akan jadi tantangan baru — developer Indonesia harus siap berkompetisi di level quality, bukan kuantitas.
