Apple pada 20 April 2026 secara resmi mengumumkan pergantian kepemimpinan besar-besaran: John Ternus, yang sebelumnya menjabat Vice President of Hardware Engineering, resmi menjadi CEO baru perusahaan. Tim Cook, yang memimpin Apple selama 15 tahun terakhir, beralih ke posisi Executive Chairman.
Ternus bukan orang baru di Apple. Ia bergabung sejak 2001 dan selama dua setengah dekade berperan penting di balik layar — memimpin pengembangan hardware untuk iPad, AirPods, dan Mac. Di bawah arahannya, penjualan Mac berhasil dihidupkan kembali dan pangsa pasar melawan PC meningkat signifikan. Ia juga jadi otak di balik peluncuran iPhone Air pada musim gugur 2025, redesign paling signifikan sejak 2017.
Yang menarik, usia Ternus saat ini — 50 tahun — persis sama dengan usia Tim Cook ketika menggantikan Steve Jobs pada 2011. Kebetulan ini seolah jadi penanda bahwa Apple punya pola tersendiri dalam memilih pemimpin.
Namun beban yang dipikul Ternus jauh berbeda dari pendahulunya. Cook mewariskan perusahaan dengan kapitalisasi pasar $4 triliun — tumbuh dua puluh kali lipat selama masa jabatannya. Tapi di balik angka gemilang itu, ada celah yang menganga: Apple tertinggal jauh dalam persaingan AI generatif.
Sementara OpenAI, Google, dan Meta berlomba meluncurkan model AI canggih, Apple masih mengandalkan mitra eksternal untuk mengisi kekurangan ini. Kesepakatan terbaru dengan Google untuk menggunakan Gemini dalam peningkatan Siri jadi bukti nyata ketergantungan tersebut. Bob O'Donnell dari TECHAnalysis Research memperkirakan bahwa "tantangan terbesar Ternus akan fokus pada membangun cerita AI yang lebih kuat, dengan mengandalkan kemampuan Apple sendiri dan mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga."
Ada dua kubu yang berbeda dalam menilai strategi AI Apple. Kubu pertama berpendapat Apple sengaja membiarkan perusahaan lain menanggung biaya pengembangan AI yang sangat mahal — begitu teknologi matang, Apple tinggal "memungut sewa" lewat platform iPhone yang sudah digunakan miliaran pengguna. Strategi ini masuk akal secara bisnis, tapi berisiko jika AI benar-benar menciptakan kategori hardware baru yang membuat smartphone usang.
Kubu kedua lebih skeptis. Mereka menilai Apple butuh pemimpin yang berani mengambil langkah besar dan ambisius, bukan sekadar mengoptimasi. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar: Nvidia baru-baru ini melampaui Apple sebagai perusahaan paling berharga di dunia, dan kini sedang mengembangkan chip PC untuk laptop. Meta dengan kacamata AR-nya juga mulai menggerogoti pasar yang seharusnya jadi domain Vision Pro.
Apple juga mengumumkan restrukturisasi lebih lanjut di jajaran eksekutif. Johny Srouji, yang selama ini bertanggung jawab atas desain chip dan sensor kustom Apple, kini resmi menyandang gelar Chief Hardware Officer. Sementara Tom Merieb ditunjuk memimpin grup Hardware Engineering, mengisi posisi yang ditinggalkan Ternus.
Secara keseluruhan, penunjukan Ternus mengirim sinyal jelas: Apple akan tetap mengandalkan kekuatan hardware sebagai pembeda utama. Di era di mana semua orang berteriak soal AI, Apple justru menaruh kepercayaan pada insinyur yang mengerti betul cara membuat produk fisik yang elegan. Apakah strategi ini cukup? Hanya waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal pasti — era Ternus akan jadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Apple.
Sudut Pandang Kami:
Penunjukan insinyur hardware sebagai CEO Apple di era AI menunjukkan bahwa perusahaan ini masih percaya pada keunggulan produk fisik, bukan sekadar software. AI bisa dikembangkan siapa saja, tapi ekosistem hardware-software yang terpadu seperti Apple sangat sulit ditiru. Untuk pasar Indonesia, ini reminder bahwa craftsmanship tetap berharga.
