Pertumbuhan kecerdasan buatan terus memicu pengeluaran masif dari perusahaan teknologi terbesar dunia. Pada laporan kuartal pertama 2026, empat raksasa digital — Alphabet, Microsoft, Amazon, dan Meta — memproyeksikan total belanja modal atau capex di kisaran US$650 miliar hingga US$900 miliar sepanjang tahun 2026. Angka tersebut melonjak hingga 74 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menandai rekor tertinggi dalam sejarah industri teknologi.
Alphabet alias Google mencatatkan kinerja paling impresif. Pendapatan Google Cloud melonjak 63 persen secara tahunan menjadi US$20 miliar. CEO Sundar Pichai mengungkapkan bahwa pendapatan dari produk yang dibangun di atas model AI generatif perusahaan tumbuh hampir 800 persen dibandingkan tahun lalu. Order backlog cloud enterprise kini mencapai US$462 miliar, berlipat ganda dalam satu kuartal.
Di sisi lain, Meta Platforms mengalami tekanan dari investor. Saham perusahaan turun lebih dari 6 persen setelah Mark Zuckerberg menaikkan panduan capex dari US$115-135 miliar menjadi US$125-145 miliar tanpa memberikan kejelasan waktu pengembalian investasi. Ketika ditanya mengenai milestones ROI, Zuckerberg menyebutnya sebagai "pertanyaan yang sangat teknis" dan lebih memilih fokus pada pembangunan model terdepan.
Microsoft berada di posisi yang berbeda. Perusahaan mengestimasi belanja sekitar US$190 miliar, didorong oleh lonjakan permintaan cloud Azure yang tumbuh 40 persen. CFO Amy Hood mencatat bahwa US$25 miliar dari kenaikan belanja tersebut berasal dari inflasi harga komponen seperti GPU dan chip memori. Meski demikian, Hood mengklaim bahwa margin bisnis AI perusahaan justru lebih baik dibandingkan masa transisi cloud awal.
Amazon memproyeksikan investasi sebesar US$200 miliar untuk tahun 2026. CEO Andy Jassy menyatakan keyakinannya terhadap pembangunan infrastruktur jangka panjang. Namun pernyataan tersebut datang bersamaan dengan laporan bahwa porsi signifikan dari "keuntungan AI" Google dan Amazon sebenarnya berasal dari kepemilikan saham di Anthropic, bukan murni dari operasional organik.
Proyeksi belanja AI untuk 2027 diperkirakan melampaui US$1 triliun. Bank of America dan Evercore secara agresif menaikkan forecast mereka setelah melihat laporan keuangan terbaru dari para hyperscaler. Siklus belanja ini memberikan dampak positif langsung bagi produsen chip seperti Nvidia, Broadcom, AMD, dan Intel yang mengalami lonjakan permintaan wafer hingga dua digit.
Para analis dari Jefferies mencatat bahwa belanja besar-besaran ini didorong oleh pergeseran menuju agentic-AI yang tidak hanya membutuhkan GPU, tetapi juga prosesor kustom seperti TPU milik Google dan chip ASIC lainnya. Evercore mengidentifikasi peluang "renaissance CPU" dalam beberapa tahun ke depan seiring meningkatnya kebutuhan komputasi untuk aplikasi agen AI.
Sudut Pandang Kami:
Apa yang terjadi di Amerika Serikat adalah sinyal kuat bahwa perlombaan infrastruktur AI telah berubah dari eksplorasi menjadi keharusan strategis. Empat perusahaan ini bukan sekadar berinvestasi — mereka sedang membangun tulang punggung ekonomi digital generasi berikutnya. Bagi Indonesia, momentum ini relevan karena adopsi AI di sektor UMKM dan pemerintahan sangat bergantung pada ketersediaan layanan cloud yang terjangkau. Jika empat hyperscaler ini berhasil menekan biaya komputasi melalui skala ekonomi yang masif, startup dan perusahaan di Indonesia bisa mendapatkan akses ke model AI berkapasitas tinggi dengan harga yang semakin kompetitif. Namun risiko ketergantungan pada infrastruktur asing tetap menjadi catatan penting yang perlu diantisipasi oleh regulator tanah air.
Sumber Referensi:
- https://www.cnbc.com/2026/04/30/ai-boom-big-tech-capital-expenditures-now-seen-topping-1-trillion-in-2027-.html
- https://fortune.com/2026/04/29/microsoft-meta-google-ai-capex-spending-billions/
- https://www.nytimes.com/2026/04/29/technology/ai-spending-tech-data-centers.html
- https://www.campaignlive.com/article/big-techs-ai-spend-2026-following-money/1949168
