Wall Street Journal melaporkan pada 28 April 2026 bahwa Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, telah menyampaikan kekhawatiran serius kepada jajaran kepemimpinan perusahaan. Friar menilai bahwa OpenAI berpotensi tidak sanggup membayar kontrak komputasi yang telah ditandatangani jika pertumbuhan pendapatan tidak melaju cukup cepat.
Laporan yang sama mengungkap bahwa dewan direksi OpenAI mulai menelusuri kesepakatan pusat data secara detail dan mempertanyakan keputusan CEO Sam Altman yang terus mendorong penguncian kapasitas komputasi baru, meskipun kinerja bisnis menunjukkan perlambatan.
Ini merupakan eskalasi dari laporan sebelumnya pada awal April 2026 oleh The Information yang mengungkap struktur tata kelola tidak biasa di OpenAI. CFO Sarah Friar ternyata tidak melapor langsung kepada Altman, melainkan kepada Fidji Simo yang memimpin divisi Applications. Lebih mencengangkan, Friar dikabarkan dikecualikan dari pembahasan material mengenai pengadaan server, yang merupakan kategori pengeluaran terbesar perusahaan.
Skala komitmen keuangan yang dipertaruhkan sungguh luar biasa. OpenAI telah mengikat diri dalam kontrak infrastruktur senilai total 1,4 triliun dolar, dengan rencana belanja 600 miliar dolar selama lima tahun ke depan untuk semikonduktor dan pusat data. Pada saat yang sama, perusahaan gagal mencapai target internal satu miliar pengguna aktif mingguan untuk ChatGPT pada akhir 2025, dan kehilangan beberapa pelanggan enterprise yang beralih ke kompetitor Anthropic di segmen coding dan layanan korporat.
Altman dan Friar merespons laporan ini dengan pernyataan bersama yang menyebut isu konflik internal sebagai hal yang tidak masuk akal. Keduanya mengklaim bahwa mereka sepenuhnya selaras dalam strategi pengadaan komputasi dan bekerja keras bersama setiap harinya. Namun, pernyataan gabungan ini tidak menyentuh substansi kritik mengenai struktur pelaporan yang tidak lazim maupun keengganan dewan direksi untuk meninjau ulang kontrak pusat data.
Dampak berita ini langsung terasa di pasar saham. Nasdaq Composite turun 0,9 persen pada Selasa, 28 April 2026, dengan tekanan khusus pada saham Nvidia dan vendor komputasi AI terkait. Saham Oracle dan CoreWeave, dua perusahaan yang memiliki ikatan kontrak besar dengan OpenAI, mencatat penarikan harga yang signifikan sepanjang sesi perdagangan.
Implikasi terhadap rencana IPO OpenAI yang ditargetkan pada kuartal IV 2026 tidak bisa diabaikan. Di bawah regulasi Section 11 dari Securities Act, para penjamin emisi dan eksekutif termasuk CEO dan CFO harus menandatangani pernyataan pendaftaran dan bertanggung jawab secara pribadi terhadap akurasi dokumen penawaran. Dalam kondisi di mana CFO secara terbuka mempertanyakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban kontraknya, proses due diligence oleh underwriter akan menghadapi hambatan substantif.
Para analis menyebut bahwa sebelum OpenAI dapat mengajukan formulir S-1 ke SEC, perusahaan perlu menyelesaikan serangkaian langkah remediasi. Ini mencakup mengembalikan kewenangan penuh CFO atas keputusan keuangan, mendokumentasikan tinjauan formal dewan direksi terhadap seluruh kewajiban komputasi, dan merekonsiliasi rencana pembiayaan dengan trajektori pendapatan yang aktual.
Konteks industri memperkuat urgensi persoalan ini. J.P. Morgan memproyeksikan belanja modal empat penyedia cloud terbesar di AS bakal mencapai 660 miliar dolar pada 2026, melonjak 66 persen dari tahun sebelumnya. Barclays memproyeksikan bahwa rasio capex terhadap arus kas operasi empat raksasa ditambah Oracle akan naik dari 50 persen pada 2024 menjadi hampir 90 persen pada 2027.
Sudut Pandang Kami:
Gejolak internal OpenAI mencerminkan pola yang pernah kita saksikan berulang dalam sejarah teknologi. Fase euforia belanja infrastruktur selalu mendahului realisasi revenue dengan jeda yang berbahaya. Bagi Indonesia, dinamika ini memberi pelajaran penting. Ketika pemerintah mendorong pembangunan ekosistem AI nasional melalui berbagai inisiatif seperti Making Indonesia 4.0, prinsip tata kelola keuangan yang sehat dan transparansi pengambilan keputusan harus menjadi fondasi. Perusahaan dan startup AI di Tanah Air perlu memastikan bahwa pertumbuhan kapasitas komputasi selalu sejalan dengan model bisnis yang jelas, agar tidak terjebak dalam ilusi skala besar tanpa monetisasi yang memadai.
