Ratu AI Logo

China Gelontorkan Rp4.800 Triliun untuk Infrastruktur AI: Perang Teknologi AS-China Memanas

10 Juni 2026Tim Redaksi Insight
China Gelontorkan Rp4.800 Triliun untuk Infrastruktur AI: Perang Teknologi AS-China Memanas

China Gelontorkan Rp4.800 Triliun untuk Infrastruktur AI Nasional

Pemerintah China sedang menyusun salah satu rencana investasi infrastruktur kecerdasan buatan paling agresif dalam sejarah. Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber dekat dengan pembahasan, Beijing menyiapkan dana sekitar 2 triliun yuan — setara US$295 miliar atau sekitar Rp4.800 triliun — untuk membangun jaringan pusat data AI yang saling terhubung di seluruh negeri selama lima tahun ke depan. Angka ini lebih dari dua kali lipat total belanja infrastruktur AI global pada tahun 2024.

Rencana yang masih dalam tahap awal ini digawangi oleh Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (NDRC) bersama sejumlah lembaga senior pemerintah China. Tujuannya ambisius: membangun ekosistem AI nasional yang mandiri, resilien, dan tidak bergantung pada teknologi asing — terutama chip dari Nvidia dan AMD yang selama ini mendominasi infrastruktur AI global.

Huawei dan Vendor Domestik Jadi Tulang Punggung

Salah satu ketentuan paling signifikan dalam rencana ini adalah persyaratan bahwa setidaknya 80% teknologi — termasuk chip AI — harus berasal dari pemasok domestik seperti Huawei Technologies. Kebijakan ini secara efektif akan mempersempit ruang bagi Nvidia, AMD, dan perusahaan semikonduktor Barat lainnya untuk berpartisipasi dalam salah satu proyek infrastruktur AI terbesar di dunia.

Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan China yang semakin proteksionis terhadap teknologi strategis. Bulan Mei lalu, sembilan jenis chip AI buatan dalam negeri — termasuk produk dari Huawei, Alibaba, Shanghai Biren Technology, dan Moore Threads — telah lolos uji keamanan teknologi nasional, membuka jalan bagi penggunaannya di sektor-sektor dengan persyaratan keamanan tinggi. Perusahaan telekomunikasi milik negara seperti China Mobile dan China Telecom akan mengoperasikan sebagian besar pusat data dan memastikan konektivitas antar fasilitas.

Pendanaan Masif dari Berbagai Sumber

Pendanaan sebesar US$295 miliar akan berasal dari kombinasi utang negara, pinjaman bank, dan modal swasta. Rencana ini merupakan bagian dari program "enam jaringan" (six networks) yang dicanangkan China awal tahun ini, yang mencakup pembangunan simultan jaringan komputasi, air, komunikasi, jaringan pipa bawah tanah perkotaan, logistik, dan jaringan listrik. Integrasi dengan jaringan listrik nasional menjadi elemen kunci, mengingat konsumsi energi pusat data AI yang sangat besar.

Sebagai perbandingan, Meta mengalokasikan belanja modal hingga US$145 miliar untuk 2026, sementara Alphabet (Google) menyiapkan hingga US$190 miliar — sebagian besar diarahkan untuk infrastruktur AI. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun rencana China terlihat masif, perusahaan teknologi raksasa AS secara individu membelanjakan jumlah yang sebanding dalam satu tahun.

Ekosistem AI China yang Sedang Bertumbuh

Rencana infrastruktur ini melengkapi momentum sektor AI swasta China yang sedang bergelora. DeepSeek, perusahaan AI China yang mengguncang pasar global awal tahun ini, tengah dalam proses penggalangan dana sebesar US$7,4 miliar dengan valuasi hingga US$59 miliar — didukung oleh Tencent, CATL, dan dana AI negara. Sementara itu, Alibaba memimpin putaran pendanaan US$293 juta untuk ShengShu Technology, pengembang alat generasi video AI bernama Vidu.

Menurut data pemerintah China, industri AI inti negara tersebut bernilai hampir US$174 miliar pada 2025 dengan lebih dari 6.200 perusahaan. Sementara firma riset International Data Corporation (IDC) menempatkan nilai pasar AI China sekitar US$63 miliar pada akhir 2025, dengan proyeksi melampaui US$200 miliar pada 2029. Kesenjangan antara estimasi pemerintah dan IDC mencerminkan definisi yang berbeda tentang apa yang termasuk dalam "industri AI."

Fragmentasi Infrastruktur AI Global

Rencana China ini muncul di tengah meningkatnya fragmentasi lanskap AI global. Amerika Serikat baru-baru ini menutup celah yang memungkinkan ekspor chip canggih ke anak perusahaan China di luar negeri, sementara China memaksa Meta untuk membatalkan akuisisi perusahaan AI berbasis China, Manus, dan memulihkan asetnya. Kedua negara adidaya ini tampaknya semakin bergerak menuju ekosistem AI yang terpisah dan independen.

Di sisi lain, investasi AI swasta di China pada 2025 tercatat sekitar US$12,4 miliar — tidak termasuk rencana belanja negara yang baru. Dana Investasi Industri Kecerdasan Buatan Nasional senilai US$8 miliar yang dibentuk pemerintah China juga telah menjadi ko-investor di DeepSeek, menandakan eratnya kolaborasi antara modal negara dan sektor swasta dalam strategi AI nasional.

Rencana ini menegaskan satu hal: perlombaan AI global bukan lagi sekadar tentang siapa yang membangun model terbaik, melainkan siapa yang menguasai infrastruktur fisik di baliknya — pusat data, chip, jaringan listrik, dan rantai pasok semikonduktor. Dan China, dengan segala ambisi dan sumber dayanya, tidak berniat menjadi penonton.

Sudut Pandang Kami:

Bagi Indonesia, eskalasi perang infrastruktur AI antara AS dan China membawa implikasi strategis yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang secara geografis berada di persimpangan dua kekuatan besar, Indonesia harus cermat membaca arah angin: di satu sisi, dominasi chip Nvidia dan AMD yang semakin dibatasi oleh regulasi ekspor dapat memperlambat akses Indonesia ke perangkat keras AI terkini; di sisi lain, kebangkitan vendor chip China seperti Huawei membuka alternatif yang lebih terjangkau. Momentum ini seharusnya mendorong Indonesia untuk mempercepat pembangunan infrastruktur AI domestik — bukan sekadar menjadi pasar bagi teknologi asing. Dengan populasi digital terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki posisi tawar yang signifikan jika mampu mengartikulasikan strategi AI nasional yang jelas dan tidak sekadar bersandar pada salah satu kubu dalam perang dingin teknologi ini.

Sumber Referensi: