Persaingan robot humanoid antara Amerika Serikat dan China memasuki babak yang makin seru. Data dari Omdia dan CES 2026 menunjukkan bahwa startup China mengirim 10 kali lebih banyak robot humanoid dibanding pesaing mereka di AS pada 2025. Tapi di balik angka pengiriman yang fantastis itu, ada paradoks menarik: investor justru lebih percaya pada perusahaan Amerika.
AgiBot asal Shanghai menjadi pemimpin pasar global dengan lebih dari 5.100 unit terkirim, menguasai 39% pangsa pasar. Unitree dari Hangzhou menyusul di posisi kedua dengan 4.200 unit, sementara UBTECH Shenzhen mengirim sekitar 1.000 unit. Di sisi AS, Tesla baru mengirim sekitar 1.000 unit Optimus dan Figure AI sekitar 500 unit. Secara total, startup China menguasai enam besar peringkat pengiriman global.
Namun soal valuasi, ceritanya terbalik total. Figure AI, startup yang baru berusia tiga tahun, dinilai $39 miliar — lebih dari 13 kali lipat valuasi Galbot, startup robot China dengan valuasi tertinggi ($3 miliar). Apptronik bahkan mencapai $5 miliar hanya dari putaran pendanaan Februari lalu. Investor AS memang memasang harga perusahaan robot sebagai "platform AI luas," sementara investor China melihatnya sebagai "mainan hardware industri biasa."
Rui Ma, pendiri Tech Buzz China, merangkum perbedaan ini dengan tajam: "Startup humanoid AS dihargai sebagai platform AI yang luas, sementara yang China dipandang lebih sebagai permainan hardware industri." Perbedaan perspektif ini mencerminkan dua filosofi yang sangat berbeda dalam membangun bisnis robotika.
Di sisi China, strategi "kirim dulu, iterasi kemudian" terbukti jitu. Robot-robot yang sudah beredar di lapangan — di pabrik semikonduktor, rumah sakit, mal, dan bandara — mengumpulkan data dunia nyata dalam skala masif. Ini menciptakan flywheel data yang sulit dikejar kompetitor yang masih berkutat di lab. Unitree bahkan menjual robot G1 seharga $16.000 — lebih murah dari mobil bekas — sementara target harga Figure AI di atas $100.000.
China juga unggul telak di sisi paten. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan China mendaftarkan 7.705 paten robotika humanoid, dibandingkan hanya 1.561 paten dari AS. Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China menetapkan robotika sebagai prioritas strategis nasional, dengan proyeksi pasar domestik senilai $2,8 miliar pada 2026.
Tapi AS punya argumen balik yang kuat: keunggulan di bidang AI reasoning dan robotic LLM. Sementara China unggul dalam volume hardware, Amerika masih memimpin dalam kecerdasan otonom yang membuat robot benar-benar "pintar." Andreas Brauchle dari Horváth mengakui bahwa "China memimpin dalam komersialisasi awal," tapi kedua negara diperkirakan akan membangun pasar yang sama besarnya seiring waktu.
Dari sisi geopolitik, pemodal ventura Timur Tengah mulai mengisi celah yang ditinggalkan investor AS. Dana pensiun besar AS mundur dari startup China akibat pengawasan regulasi, sementara dana dari Dubai — seperti Stone Venture — melangkah masuk. Winston Ma dari NYU School of Law menyebut sekitar 90% modal ventura AS mengalir ke software, meninggalkan "celah pendanaan kritis" di sektor hard tech yang justru diisi sovereign fund.
Proyeksi ke depan sangat agresif. Pengiriman robot humanoid global diproyeksikan mencapai 50.000+ unit pada 2026 — lonjakan 700% dari tahun sebelumnya. Goldman Sachs memperkirakan pasar ini akan mencapai 250.000 unit pada 2030 dan 38 miliar dollar pada 2035. Morgan Stanley bahkan lebih ambisius: pasar total senilai $9 triliun pada 2050, dengan China berpotensi menguasai 60%.
Bagi Indonesia, tren ini punya implikasi ganda. Di satu sisi, robot China yang murah bisa mempercepat otomasi manufaktur dan logistik. Di sisi lain, ketergantungan pada teknologi dari satu negara menimbulkan risiko strategis. Yang jelas, perlombaan robot humanoid bukan lagi soal siapa yang bisa membuat robot — tapi siapa yang bisa membuatnya murah, andal, dan cerdas dalam skala masif.
Sudut Pandang Kami:
Perbedaan antara China dan Amerika dalam robotika mencerminkan filosofi bisnis yang berbeda: volume dan harga versus valuasi dan reasoning. Keduanya valid. Untuk Indonesia, ini berarti kita punya pilihan: impor robot murah dari China yang cepat tersedia, atau akses teknologi reasoning Amerika yang lebih pintar tapi mahal. Atau yang lebih ambisius: membangun sendiri dengan belajar dari keduanya.
