Ratu AI Logo

44 Persen Lagu Baru di Deezer Dibuat AI — Dan 85 Persen Stream-nya Ternyata Penipuan

21 April 2026Tim Redaksi Insight
44 Persen Lagu Baru di Deezer Dibuat AI — Dan 85 Persen Stream-nya Ternyata Penipuan

Gelombang musik buatan AI semakin tidak terbendung. Deezer, platform streaming musik asal Paris, baru saja merilis data yang cukup mengkhawatirkan: 44 persen dari seluruh lagu yang diunggah setiap hari ke platform mereka kini berasal dari kecerdasan buatan. Angka itu setara dengan sekitar 75.000 lagu AI baru setiap harinya — atau lebih dari dua juta lagu per bulan.

Laju pertumbuhannya bikin pusing. Pada Januari 2025 lalu, Deezer baru menerima sekitar 10.000 lagu AI per hari. Dalam waktu satu setengah tahun, angkanya melonjak tujuh kali lipat. Tren ini mencerminkan bagaimana model generatif musik seperti Suno, Udio, dan Google Lyria kini semakin mudah diakses — dan semakin murah untuk digunakan.

Tapi yang lebih seru lagi: meski hampir separuh lagu baru di platform itu buatan AI, pendengar nyaris tidak menyadarinya. Dalam survei yang dilakukan Deezer bersama Ipsos pada November 2025 lalu, 97 persen responden tidak bisa membedakan mana lagu buatan AI dan mana yang dibuat manusia. Angka itu menggarisbawahi betapa canggihnya teknologi generatif musik saat ini — dan sekaligus menunjukkan betapa sulitnya pendengar biasa mengenali "asal-usul" musik yang mereka nikmati.

Namun bukan berarti Deezer diam saja. Platform ini menjadi satu-satunya layanan streaming yang secara aktif melabeli konten musik buatan AI. Mereka mengembangkan teknologi deteksi paten yang mampu mengidentifikasi lagu-lagu hasil model AI seperti Suno dan Udio dengan tingkat false positif di bawah 0,01 persen. Teknologi ini kini juga bisa dilisensikan ke perusahaan lain di industri musik.

Langkah paling tegas Deezer adalah demonetisasi: 85 persen dari stream lagu AI terdeteksi sebagai aktivitas curang atau manipulatif, dan semuanya langsung diputus dari sistem pembayaran royalti. CEO Deezer Alexis Lanternier menjelaskan: "Berkat teknologi dan langkah proaktif yang kami terapkan lebih dari setahun lalu, kami telah membuktikan bahwa penipuan terkait AI dan pengenceran pembayaran di layanan streaming bisa ditekan seminimal mungkin."

Selain demonetisasi, Deezer juga menerapkan shadowban algoritmis: lagu-lagu yang ditandai sebagai AI otomatis dihapus dari rekomendasi dan playlist editorial. Artinya, meski ada di platform, lagu-lagu itu nyaris mustahil ditemukan oleh pendengar biasa. Deezer bahkan berhenti menyimpan versi resolusi tinggi dari lagu-lagu AI untuk menghemat biaya penyimpanan.

Yang menarik, Deezer juga menemukan bahwa sebagian besar tujuan pengunggahan musik AI bukanlah untuk dinikmati penonton, melainkan untuk melakukan penipuan stream. Bot-bot otomatis memutar lagu-lagu AI berulang kali untuk mengeruk royalti — praktik yang dikenal sebagai "stream farming." Ini bukan masalah kecil: sebuah studi oleh CISAC dan PMP Strategy memperkirakan bahwa 25 persen pendapatan kreator musik — senilai sekitar 4 miliar euro — terancam hilang pada 2028 akibat integrasi AI di sektor musik.

Perdebatan soal musik AI memang belum punya jawaban gampang. Di satu sisi, ada argumen bahwa AI membuka akses demokratisasi bermusik — siapa pun bisa membuat lagu tanpa harus jadi musisi profesional. Di sisi lain, jika hampir separuh konten di platform streaming adalah buatan mesin, dan sebagian besar stream-nya curang, maka seluruh ekosistem musik terancam kehilangan kepercayaan dan keadilan bagi para artis manusia.

Survei Deezer-Ipsos juga menunjukkan bahwa publik sebenarnya punya sikap tegas: 80 persen responden ingin musik AI dilabeli secara jelas, 73 persen ingin tahu apakah rekomendasi yang mereka terima mengandung konten AI, dan 52 persen merasa lagu buatan AI 100 persen harus dilarang dari tangga lagu utama. Bahkan, baru-baru ini sebuah lagu buatan AI sempat meraih posisi nomor satu di tangga lagu iTunes di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, dan Selandia Baru.

Bagi industri musik Indonesia, tren ini perlu dicermati serius. Pasar streaming di Tanah Air terus berkembang pesat, dan potensi banjir musik AI juga mengancam artis lokal. Langkah Deezer dalam melabeli dan mendemonetisasi konten AI bisa jadi referensi berharga bagi platform lokal untuk melindungi karya musisi Indonesia dari serbuan konten buatan mesin.

Sudut Pandang Kami:

Kasus Deezer adalah contoh nyata bahwa AI tidak hanya mengubah cara kita membuat konten, tapi juga cara konten didistribusikan dan dimonetisasi. Indonesia dengan pertumbuhan musik digital yang pesat perlu belajar dari Deezer: transparansi label konten AI bukan musuh, tapi senjata untuk membangun kepercayaan. Tanpa deteksi proaktif, industri musik bisa kehilangan integritasnya.

Sumber Referensi: