Generasi Z — mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 — selama ini dianggap sebagai kelompok yang paling melek teknologi. Tapi sebuah survei besar-besaran dari Gallup, Walton Family Foundation, dan GSV Ventures yang dirilis April 2026 lalu mengungkap fakta yang mengejutkan: generasi ini makin tidak percaya pada kecerdasan buatan.
Angkanya cukup tajam. Kegembiraan Gen Z terhadap AI turun drastis dari 36 persen menjadi 22 persen — penurunan 14 poin persentase hanya dalam satu tahun. Di sisi lain, rasa marah terhadap AI justru melonjak dari 22 persen jadi 31 persen. Perasaan harapan pun ikut merosot 9 poin.
Tapi yang bikin paradoks: meski sentimen negatifnya naik tajam, tingkat penggunaan AI di kalangan Gen Z justru tetap stabil. Sekitar 51 persen mengaku masih menggunakan AI secara rutin — 22 persen setiap hari, 29 persen setiap minggu. Artinya, mereka pakai bukan karena suka, tapi karena merasa tidak punya pilihan lain.
Zach Hrynowski, peneliti pendidikan senior di Gallup, merangkum fenomena ini dengan tepat: "Bahkan kalau bikin cemas, bahkan kalau saya pikir ini berpotensi merusak cara berpikir saya, teknologi ini sudah ada di mana-mana. Sudah masuk ke sekolah dan kantor, dan saya harus tahu cara pakainya."
Yang paling mencolok adalah dampaknya pada keputusan akademik. Survei terpisah dari Lumina Foundation-Gallup menemukan bahwa 47 persen mahasiswa di AS sudah mempertimbangkan serius untuk mengganti jurusan karena kekhawatiran dampak AI pada pasar kerja. Bahkan, satu dari enam mahasiswa — sekitar 16 persen — sudah benar-benar mengganti jurusannya.
Di kalangan mahasiswa program associate, angkanya lebih tinggi lagi: 56 persen memikirkan pergantian jurusan, dan 19 persen sudah melakukannya. Ini bukan keputusan sepele — mengganti jurusan berarti menambah waktu kuliah, biaya, dan memulai dari nol di bidang baru.
Soal dampak AI pada proses belajar, Gen Z punya kekhawatiran mendalam. Sebanyak 80 persen responden percaya bahwa penggunaan AI sekarang justru akan membuat belajar lebih sulit di masa depan. Banyak mahasiswa merasa AI menghilangkan "gesekan" yang dibutuhkan untuk benar-benar memahami sesuatu — frustrasi dan kesulitan yang justru jadi bagian penting dari proses belajar.
Sasha Kostakis, seorang mahasiswa yang disurvei, menggambarkan kekhawatiran ini dengan gamblang: AI membuat segalanya terlalu mudah, dan kemudahan itu justru merampas kesempatan untuk benar-benar menguasai materi. Tanpa perjuangan, tidak ada pembelajaran yang mendalam.
Di dunia kerja, skeptisisme ini makin terasa. Sekitar 48 persen pekerja muda kini percaya bahwa risiko AI lebih besar daripada manfaatnya — naik dari 37 persen di 2025. Kepercayaan bahwa AI bisa mempercepat kerja juga turun 10 poin ke 56 persen. Lebih dari separuh Gen Z merasa bidang-bidang yang butuh koneksi interpersonal — seperti diplomasi dan pemerintahan — tidak bisa digantikan mesin.
Yang menarik, kurang dari 3 dari 10 responden mempercayai pekerjaan yang dibantu AI, dan nyaris 0 persen mempercayai pekerjaan yang sepenuhnya dihasilkan AI tanpa campur tangan manusia. Ini sinyal kuat bahwa Gen Z tidak akan "menerima begitu saja" teknologi baru tanpa pertanyaan kritis.
Survei juga mengungkap perbedaan demografi yang menarik. Gen Z yang lebih tua (usia 22-29 tahun) adalah kelompok yang paling vokal menyatakan marah terhadap AI. Anak-anak dari orang tua yang sering menggunakan AI cenderung ikut jadi pengguna aktif, menunjukkan bahwa adopsi AI punya jalur "turun-temurun" dari keluarga ke sekolah.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan banget. Generasi muda kita menghadapi dilema serupa: mau tidak mau harus belajar AI, tapi khawatir dampaknya pada lapangan kerja dan kualitas pendidikan. Lembaga pendidikan dan perusahaan perlu buktikan bahwa AI benar-benar menambah nilai, bukan sekadar menggantikan manusia — kalau tidak, mereka berisiko kehilangan kepercayaan generasi yang justru paling banyak menggunakan teknologi ini.
Sudut Pandang Kami:
Fenomena Gen Z yang sinis tapi tetap pakai AI sangat relevan untuk Indonesia. Generasi muda kita juga menghadapi dilema yang sama: antara ketergantungan praktis dan kecemasan eksistensial. Lembaga pendidikan di Indonesia perlu merespons bukan dengan melarang AI di kelas, tapi dengan mengajarkan cara menggunakannya secara kritis — bukan sebagai pengganti berpikir, tapi sebagai amplifier.
Sumber Referensi:
- Gallup — 2026 Gen Z Research: AI Attitudes and Usage
- U.S. News — Gen Z's AI Use Remains Stable as Skepticism Grows, Gallup Finds
- CNBC — 47% of college students have seriously considered changing majors due to AI
- Route Fifty — Gen Z increasingly skeptical of — and angry about — artificial intelligence
