Jack Dorsey, pendiri Twitter dan CEO Block (perusahaan fintech senilai $41 miliar), mem-PHK sekitar 4.000 dari 10.000 karyawannya — dan secara terbuka mengklaim bahwa ini bukan pemotongan biaya, melainkan restrukturisasi permanen yang didorong oleh AI.
Dalam esai bersama Roelof Botha dari Sequoia Capital berjudul "From Hierarchy to Intelligence," Dorsey berargumen bahwa hierarki perusahaan selama ini ada untuk memecahkan satu masalah: menyalurkan informasi melalui organisasi yang terlalu besar untuk dikelola satu orang. AI, katanya, kini bisa menangani fungsi itu.
Dorsey mengungkapkan bahwa selama liburan akhir tahun 2025, dia dan pemimpin Block lainnya melakukan eksperimen: "Berapa jumlah minimum orang yang kami butuhkan untuk menjaga layanan tetap berjalan 100% dengan AI terbaru?" Jawabannya? Pengurangan 40%.
Langkah ini memicu kontroversi besar. Kritikus menunjukkan bahwa Dorsey menggunakan retorika AI untuk menormalkan PHK massal. Namun Dorsey bersikukuh bahwa bisnisnya hanya merespons era baru kesuksesan yang diaktifkan AI — bukan memangkas biaya.
Bagi ekosistem venture capital, esai ini mengubah pertanyaan due diligence: bukan lagi apakah sebuah perusahaan menggunakan AI, melainkan apakah arsitektur informasi perusahaan cukup padat untuk membuat model AI bisa menggantikan lapisan koordinasi manusia. Pertanyaan ini akan mengubah cara investor mengevaluasi startup di masa depan.
Sudut Pandang Kami:
PHK massal di Block yang dikaitkan dengan penggantian peran manajemen oleh AI adalah preseden yang mengkhawatirkan tapi predictable. Untuk Indonesia yang masih memiliki tenaga kerja besar di sektor middle management, ini sinyal untuk mulai upskill. AI tidak akan menggantikan semua manajer, tapi manajer yang menggunakan AI akan menggantikan yang tidak.
