Ratu AI Logo

Physical Intelligence Luncurkan π0.7 — Otak Robot yang Bisa Melakukan Tugas Pernah Diajarkan

21 April 2026Tim Redaksi Insight
Physical Intelligence Luncurkan π0.7 — Otak Robot yang Bisa Melakukan Tugas Pernah Diajarkan

Dunia robotika baru saja mendapat kejutan besar. Physical Intelligence, startup asal San Francisco yang didanai lebih dari $1 miliar, merilis riset tentang model terbarunya bernama π0.7. Yang membuatnya spesial: robot ini bisa melakukan tugas yang belum pernah dilatih sebelumnya, dengan cara mengombinasikan potongan-potongan pengetahuan yang sudah ia miliki.

Kemampuan ini disebut generalisasi komposisional — bukan sekadar mengulang gerakan yang pernah dicontohkan, tapi benar-benar menyusun ulang fragmen-fragmen data pelatihan untuk memecahkan masalah baru. Sergey Levine, salah satu pendiri Physical Intelligence yang juga profesor di UC Berkeley, menjelaskan: "Begitu robot melewati ambang batas di mana ia mulai menyusun ulang keterampilan, kemampuannya naik jauh lebih cepat dari sekadar bertambahnya data."

Contoh paling menarik dari riset ini adalah percobaan dengan air fryer. Tim peneliti menguji apakah robot bisa memasak ubi jalar menggunakan air fryer, meskipun dalam data pelatihannya hanya ada dua episode yang sedikit terkait — dan itu pun tidak langsung. Robot ini merangkai pemahaman dari data tersebut ditambah dengan pra-pelatihan berbasis web, lalu berhasil mengoperasikan alat yang belum pernah ia temui secara langsung. Awalnya, tingkat keberhasilan cuma lima persen, tapi setelah 30 menit menyempurnakan instruksi verbal, angkanya melonjak jadi 95 persen.

Ashwin Balakrishna, ilmuwan riset di Physical Intelligence, mengaku terkejut dengan hasilnya. "Biasanya saya bisa menebak apa yang bisa dilakukan model berdasarkan data yang ada. Tapi beberapa bulan terakhir ini, untuk pertama kalinya saya benar-benar terkejut. Saya beli set gear acak, minta robotnya memutar gear itu, dan langsung berhasil."

Selain percobaan dengan air fryer, π0.7 juga diuji pada berbagai tugas lain: membuat kopi, melipat pakaian, menyusun kotak, dan memutar komponen gear yang belum pernah dilihat. Yang mencengangkan, model generalis ini mampu menyamai performa model-model spesialis yang dirancang khusus untuk satu tugas saja. Meski begitu, robot ini belum bisa menerima perintah tingkat tinggi — misalnya "buatkan saya roti panggang" — tanpa diarahkan langkah per langkah oleh manusia.

Para peneliti membandingkan momen ini dengan "era GPT-2" di dunia bahasa model, ketika perilaku munculan (emergent behavior) mulai terlihat dan kemampuan model naik secara tak terduga. Sergey Levine juga menanggapi kritik bahwa tugas-tugas robot ini terlihat "membosankan." Menurutnya, "generalisasi memang tidak pernah terlihat dramatis seperti pertunjukan akrobatik yang dikoreografi dengan teliti — tapi jauh lebih berguna."

Dari sisi bisnis, Physical Intelligence sedang dalam pembicaraan putaran pendanaan baru yang bisa menggandakan valuasinya menjadi $11 miliar, dari posisi saat ini di $5,6 miliar. Startup ini didirikan oleh Sergey Levine dan Lachy Groom, investor ternama yang juga berinvestasi di Figma dan Notion. Meski belum menetapkan tanggal pasti untuk peluncuran komersial, riset ini menunjukkan arah yang jelas: dunia robotika mungkin sedang mengalami lompatan yang sama dengan apa yang terjadi pada large language models beberapa tahun lalu.

Bagi Indonesia, kemajuan ini membuka peluang menarik. Robot yang bisa beradaptasi tanpa perlu dilatih ulang untuk setiap tugas baru akan sangat berguna di sektor manufaktur, logistik, dan bahkan rumah tangga. Daripada membeli robot spesialis untuk setiap kebutuhan, satu robot generalis bisa menangani berbagai pekerjaan — dan biayanya jauh lebih efisien dalam jangka panjang.

Sudut Pandang Kami:

Kemampuan π0.7 untuk melakukan tugas yang belum pernah dilatih sebelumnya membuktikan bahwa konsep generalisasi komposisional mulai berlaku di dunia robotika, sama seperti yang terjadi pada LLM. Implikasi untuk Indonesia signifikan: sektor manufaktur dan pertanian yang masih bergantung pada tenaga manusia bisa mendapat revolusi produktivitas jika robot generalis seperti ini bisa diadopsi dengan harga terjangkau.

Sumber Referensi: