Jakarta, 22 April 2026 — Thinking Machines Lab, startup yang didirikan mantan chief technologist OpenAI Mira Murati, resmi menandatangani perjanjian bernilai miliaran dolar dengan Google Cloud untuk memperluas penggunaan infrastruktur kecerdasan buatan, termasuk sistem yang ditenagai GPU terbaru Nvidia. Kesepakatan ini diungkapkan secara eksklusif oleh TechCrunch pada Rabu pagi waktu setempat.
Nilai transaksi diperkirakan berada di kisaran single-digit billions, menurut sumber yang memahami masalah ini. Perjanjian tersebut mencakup akses ke sistem AI terbaru Google yang dibangun di atas chip Nvidia GB300, bersama layanan infrastruktur untuk mendukung pelatihan dan deployment model skala besar.
Google secara agresif menjalin berbagai kesepakatan cloud dengan pengembang AI sebagai bagian dari strategi mengintegrasikan layanan komputasi AI-nya dengan produk cloud lainnya seperti storage, Kubernetes engine, dan Spanner. Awal bulan ini, Anthropic juga menandatangani kesepakatan dengan Google dan Broadcom untuk kapasitas tensor processing unit (TPU) sebesar beberapa gigawatt.
Namun persaingan di sektor ini semakin sengit. Pada minggu yang sama, Anthropic juga menandatangani perjanjian baru dengan Amazon untuk mengamankan hingga 5 gigawatt kapasitas pelatihan dan deployment model Claude. Pola ini menunjukkan bagaimana cloud provider raksasa berlomba mengunci startup AI frontier sedini mungkin.
Ini merupakan kali pertama Thinking Machines Lab bermitra dengan penyedia layanan cloud. Sebelumnya, pada awal 2026, startup ini sudah menjalin kemitraan dengan Nvidia yang mencakup investasi dari pembuat chip tersebut. Kesepakatan dengan Google Cloud ini tidak bersifat eksklusif, sehingga Thinking Machines Lab berpotensi menggunakan layanan dari beberapa cloud provider secara bersamaan.
Murati sendiri meninggalkan jabatannya di OpenAI dan mendirikan Thinking Machines Lab pada Februari 2025. Perusahaan ini kemudian berhasil mengumpulkan dana seed sebesar $2 miliar pada valuasi $12 miliar dari investor termasuk Andreessen Horowitz, Accel, dan Nvidia. Meskipun beroperasi secara sangat tertutup, perusahaan meluncurkan produk pertamanya pada Oktober lalu bernama Tinker — sebuah alat yang mengotomatisasi pembuatan model AI frontier kustom.
Perjanjian hari Rabu ini memberikan wawasan baru tentang arah pengembangan Thinking Machines. Dalam siaran persnya, Google menyebutkan bahwa infrastruktur cloud-nya mampu mendukung workload reinforcement learning yang menjadi arsitektur utama Tinker. Reinforcement learning merupakan pendekatan pelatihan yang telah mendorong terobosan terbaru di berbagai lab AI terkemuka, termasuk DeepMind dan OpenAI, sekaligus mencerminkan betapa mahalnya sumber daya komputasi yang dibutuhkan.
Thinking Machines Lab menjadi salah satu pelanggan pertama Google Cloud yang mengakses sistem bertenaga GB300, yang menurut Google menawarkan peningkatan kecepatan pelatihan hingga 2 kali lipat dibandingkan generasi GPU sebelumnya. "Google Cloud membuat kami beroperasi dengan kecepatan rekor dan keandalan yang kami butuhkan," ujar Myle Ott, salah satu pendiri peneliti di Thinking Machines Lab, dalam pernyataannya.
Sudut Pandang Kami:
Kesepakatan antara Thinking Machines Lab dan Google Cloud mencerminkan fenomena yang semakin nyata di ekosistem AI global: infrastruktur komputasi menjadi mata uang baru kekuatan geopolitik teknologi. Bagi Indonesia, tren ini menghadirkan dua sisi mata uang. Di satu sisi, semakin tingginya biaya infrastruktur AI frontier berpotensi memperlebar kesenjangan digital antara negara maju dan berkembang, mengingat akses ke chip mutakhir seperti Nvidia GB300 atau TPU generasi terbaru tetap terkonsentrasi pada segelintir perusahaan raksasa. Di sisi lain, kehadiran layanan cloud berbasis AI dari provider global membuka peluang bagi ekosistem startup dan lembaga riset Indonesia untuk mengakses kemampuan komputasi yang sebelumnya hanya tersedia bagi laboratorium AI terbesar dunia — asalkan strategi adopsi dan kebijakan literasi AI nasional terus diperkuat secara sistematis.
